$value) { if (strpos($param, 'color_') === 0) { google_append_color($google_ad_url, $param); } else if (strpos($param, 'url') === 0) { $google_scheme = ($GLOBALS['google']['https'] == 'on') ? 'https://' : 'http://'; google_append_url($google_ad_url, $param, $google_scheme . $GLOBALS['google'][$param]); } else { google_append_globals($google_ad_url, $param); } } return $google_ad_url; } $google_ad_handle = @fopen(google_get_ad_url(), 'r'); if ($google_ad_handle) { while (!feof($google_ad_handle)) { echo fread($google_ad_handle, 8192); } fclose($google_ad_handle); } ?>

Indonesia Masa Kini merupakan Masa Depan Majapahit


Gambaran Indonesia masa kini memiliki bukti dan kaitan erat dengan masa depan Majapahit sebagai sebuah peradaban besar berusia 300 tahun dari abad ke-12 hingga 15.
Artinya, gambaran Indonesia masa kini bisa diacu sebagai bentuk dari peradaban Majapahit pada zamannya, sebagai peradaban dengan keunggulan pencapaian budaya di satu pihak, tetapi juga dengan kepahitan gambaran tragis suksesi, perubahan politik, penaklukan, dan perang hegemoni.
Demikian antara lain yang disampaikan sejarawan arkeolog Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Universitas Negeri Malang, Deni Yudo Wahyudi, dalam seminar bertema "Memperingati Delapan Abad Kerajaan Majapahit", pekan lalu. Hadir juga Guru Besar Sejarah Universitas Indonesia Agus Aris Munandar dan Guru Besar Sejarah Universitas Gadjah Mada Timbul Haryono.

Mempelajari sejarah Majapahit bisa menjelaskan kerumitan hasrat kekuasaan Indonesia mutakhir dan sebaliknya. Gambaran kompleks Majapahit paling tidak memberikan sumbangan yang sangat berharga bagi kajian sejarah, perbandingan dengan masa-masa sebelumnya serta refleksi fondasi masa kini.
"Sangat boleh jadi kita bisa memperkirakan masa depan Indonesia dengan memahami dialektika sejarah Majapahit yang, meski gilang gemilang dengan segenap kejayaannya, juga menyimpan kepahitan," katanya.

Guru Besar Sejarah UI Agus Aris Munandar mengungkapkan, Majapahit secara kualitatif bisa dilihat dengan tiga penampakan, yakni, pertama, peradaban Majapahit yang nyata terbuka (overt Majapahit civilization) yang dapat disaksikan sebagai bentukan fisik.
Keduaperadaban Majapahit yang tidak secara nyata terbuka (covert Majapahit civilization), yakni sistem politik, kebiasaan, budaya yang tak tampak.
Ketiga, peradaban Majapahit yang bersinambung (continuity of Majapahit civilization), yakni bentuk peradaban yang bisa ditemukan sebagai kelanjutan pra-Majapahit (Airlangga abad ke-11, Kediri abad ke-12, dan Singasari abad ke-13) dan berlanjut pada masyarakat Jawa Kuno pasca-Majapahit (Demak abad ke-15) .

Sebagaimana halnya Majapahit merupakan produk berkesinambungan, demikian pula Indonesia juga bukan produk yang berdiri sendiri dalam lembaran sejarah, melainkan lanjutan sejarah sebelumnya.
Guru Besar Sejarah UGM Timbul Haryono menjelaskan, warisan budaya kerajaan Majapahit masih memiliki nilai relevansi tinggi bagi kehidupan masa kini. Karya budaya akan memiliki tiga macam kemanfaatan, yaitu ideologis, edukatif, dan ekonomis.
Nilai ideologis bermakna bahwa warisan budaya masa Majapahit bagi masyarakat kini merupakan sebuah kebanggaan sebab dalam warisan budaya tersebut terdapat nilai-nilai luhur.
Nilai ekonomis dapat dimanfaatkan untuk kepentingan ekonomi melalui sektor pariwisata.
"Nilai edukatif mendorong munculnya pesan-pesan edukatif karena artefak tampak dan tak tampak warisan Majapahit pada hakikatnya mengandung message yang ingin disampaikan oleh seniman sebagai sender kepada masyarakat sebagai receiver," katanya.

Source :http://regional.kompas.com

Pentingnya Pendidikan Karakter Dalam Dunia Pendidikan


Sebelum kita membahas topik ini lebih jauh lagi saya akan memberikan data dan fakta berikut:
  • 158 kepala daerah tersangkut korupsi sepanjang 2004-2011
  • 42 anggota DPR terseret korupsi pada kurun waktu 2008-2011
  • 30 anggota DPR periode 1999-2004 terlibat kasus suap pemilihan DGS BI
  • Kasus korupsi terjadi diberbagai lembaga seperti KPU,KY, KPPU, Ditjen Pajak, BI, dan BKPM   
Sumber : Litbang Kompas
Kini setelah membaca fakta diatas, apa yang ada dipikran anda? Cobalah melihat lebih ke atas sedikit, lebih tepatnya judul artikel ini. Yah, itu adalah usulan saya untuk beberapa kasus yang membuat hati di dada kita “terhentak” membaca kelakuan para pejabat Negara.
Pendidikan karakter, sekarang ini mutlak diperlukan bukan hanya di sekolah saja, tapi dirumah dan di lingkungansosial. Bahkan sekarang ini peserta pendidikan karakter bukan lagi anak usia dini hingga remaja, tetapi juga usia dewasa. Mutlak perlu untuk kelangsungan hidup Bangsa ini.
Bayangkan apa persaingan yang muncul ditahun 2021? Yang jelas itu akan menjadi beban kita dan orangtua masa kini. Saat itu, anak-anak masa kini akan menghadapi persaingan dengan rekan-rekannya dari berbagai belahan Negara di Dunia. Bahkan kita yang masih akan berkarya ditahun tersebut akan merasakan perasaan yang sama. Tuntutan kualitas sumber daya manusia pada tahun 2021 tentunya membutuhkan good character.
Bagaimanapun juga, karakter adalah kunci keberhasilan individu. Dari sebuah penelitian di Amerika, 90 persen kasus pemecatan disebabkan oleh perilaku buruk seperti tidak bertanggung jawab, tidak jujur, dan hubungan interpersonal yang buruk. Selain itu, terdapat penelitian lain yang mengindikasikan bahwa 80 persen keberhasilan seseorang di masyarakat ditentukan oleh emotional quotient.
Bagaimana dengan bangsa kita? Bagaimana dengan penerus orang-orang yang sekarang sedang duduk dikursi penting pemerintahan negara ini dan yang duduk di kursi penting yang mengelola roda perekonomian negara ini? Apakah mereka sudah menunjukan kualitas karakter yang baik dan melegakan hati kita? Bisakah kita percaya, kelak tongkat estafet kita serahkan pada mereka, maka mereka mampu menjalankan dengan baik atau justru sebaliknya?
Dari sudut pandang psikologis, saya melihat terjadi penurunan kulaitas “usia psikologis” pada anak yang berusia 21 tahun pada tahun 20011, dengan anak yang berumur 21 pada tahun 2001. Maksud usia psikologis adalah usia kedewasaan, usia kelayakan dan kepantasan yang berbanding lurus dengan usia biologis. Jika anak sekarang usia 21 tahun seakan mereka seperti berumur 12 atau 11 tahun. Maaf jika ini mengejutkan dan menyakitkan.
Walau tidak semua, tetapi kebanyakan saya temui memiliki kecenderungan seperti itu. Saya berulangkali bekerjasama dengan anak usia tersebut dan hasilnya kurang maksimal. Saya tidak “kapok” ber ulang-ulang bekerja sama dengan mereka. Dan secara tidak sengaja saya menemukan pola ini cenderung berulang, saya amati dan evaluasi perilaku dan karakter mereka. Kembali lagi ingat, disekolah pada umumnya tidak diberikan pendidikan untuk mengatasi persaingan pada dunia kerja. Sehingga ada survey yang mengatakan rata-rata setelah sekolah seorang anak perlu 5-7 tahun beradaptasi dengan dunia kerja dan rata-rata dalam 5-7 tahun tersebut pindah kerja sampai 3-5 kali. Hmm.. dan proses seperti ini sering disebut dengan proses mencari jati diri. Pertanyaan saya mencari “diri” itu didalam diri atau diluar diri? “saya cocoknya kerja apa ya? Coba kerjain ini lah” lalu kalau tidak cocok pindah ke lainnya. Kenapa tidak diajarkan disekolah, agar proses anak menjalani kehidupan  di dunia yang sesungguhnya tidak mengalami hambatan bahkan tidak jarang yang putus asa karena tumbuh perasaan tidak mampu didalam dirinya dan seumur hidup  terpenjara oleh keyakinannya yang salah.
Baiklah kembali lagi ke topik, Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya dan adat istiadat.
Bagi Indonesia sekarang ini, pendidikan karakter juga berarti melakukan usaha sungguh-sungguh, sitematik dan berkelanjutan untuk membangkitkan dan menguatkan kesadaran serta keyakinan semua orang Indonesia bahwa tidak akan ada masa depan yang lebih baik tanpa membangun dan menguatkan karakter rakyat Indonesia. Dengan kata lain, tidak ada masa depan yang lebih baik yang bisa diwujudkan tanpa kejujuran, tanpa meningkatkan disiplin diri, tanpa kegigihan, tanpa semangat belajar yang tinggi, tanpa mengembangkan rasa tanggung jawab, tanpa memupuk persatuan di tengah-tengah kebinekaan, tanpa semangat berkontribusi bagi kemajuan bersama, serta tanpa rasa percaya diri dan optimisme. Inilah tantangan kita bangsa Indonesia, sanggup?
Theodore Roosevelt mengatakan: “To educate a person in mind and not in morals is to educate a menace to society” (Mendidik seseorang dalam aspek kecerdasan otak dan bukan aspek moral adalah ancaman mara-bahaya kepada masyarakat)
Salam
Timothy Wibowo
Sumber : http://www.pendidikankarakter.com